JEJAK SANDAL AYAH - JUARA FAVORIT 4 LOMBA CERPEN EUREKA BOOKHOUSE

Oleh Eureka | 19 May, 2021 |
484
IMG-BLOG
19 05 2021

Saya  bersekolah di salah satu sekolah berasrama yang bergengsi di Kota Malang. Saya  menjadi satu dari lima puluh siswa yang beruntung karena dapat sekolah di sana meskipun bukan dari golongan kaya. Iya,  saya  mendapatkan beasiswa penuh di sekolah bercitra tersebut. Suatu hari ketika liburan semester tiba, parkiran asrama dipenuhi oleh mobil  wali murid yang hendak menjemput  putra/putrinya, termasuk  ayah  saya. Dari kejauhan  saya sudah melihat tempat  Ayah  saya  memarkir mobil. Karena mobilnya antik atau lebih tepatnya tua  sehingga sangat mencolok jika bersanding dengan mobil-mobil  mewah di sana.  Ayah saya menyambut dengan hangat lalu bergegas keluar dari lingkungan asrama. Di perjalanan,  ayah  bercerita bahwa ia bertemu dengan kepala sekolah  saya. Raut  muka ayah  berubah musam saat bercerita sehingga membuat  saya  penasaran akan kelanjutan ceritanya. 

 

Ayah  berkata, “Kepala sekolah kamu  memandang remeh  ayah  karena  ayah  hanya mengenakan sandal jepit dan mobil tua. Beliau melengos ketika  ayah  hendak menjabat tangan beliau”.

Mendengar hal tersebut,  hatiku  terasa perih seperti  kulit yang disayat.  Ingin  saya  berbalik arah dan memaki siapapun yang telah membuat  ayah  saya  sedih. Namun, niat gegabah itu  saya  urungkan. 

Saya  tampilkan ekspresi tertawa kecil kepada  ayah  sambil berkata, “Ayah juga sih, ada sandal bagus malah pake sandal jepit haha”.

Ayah  saya  yang sabar, bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarga. Di bela-belain bekerja di bawah terik matahari dengan keringat yang berkucur di dahi, dan kulit yang kian gelap dan keriput.

 

“Demi  Tuhan,  saya  tidak rela sedikit pun  jika  ada orang yang menyakiti hatinya!”

Saya  telah membulatkan tekad bahwa  saya  akan menjadi siswa yang berprestasi dan membawa  ayah  naik ke atas panggung saat graduasi nanti. Dengan begitu,  ayah  akan bersalaman  dengan kepala sekolah saya. Dan,  saya  akan  menunjukkan  kepada seisi dunia ini  bahwa  Ayah  saya  hebat karena telah mendidik putrinya menjadi hebat. Hari itu adalah hari perjuangan besar saya  dimulai, dendam itu harus  saya  balaskan dengan cara yang benar, “saya  harus berprestasi.”  Saya  mulai  bertekad, belajar lebih  kuat, berdoa lebih giat,  dan tak lupa selalu menanamkan kebaikan agar terus melekat.

18 Mei 2019, prosesi graduasi masa putih abu-abu saya  dilaksanakan. Di sebuah hotel mewah dengan dekorasi  glamor, tamu undangan yang berkelas menengah ke atas hadir guna menambah pesona kemewahan duniawi ini. Acara berlangsung sesuai skenario, mulai dari pembukaan, sambutan, tarian hingga acara puncak yang ditunggu-tunggu. Kami, wasudawan dan wisudawati mengenakan toga khas sekolah kami dengan riasan wajah yang lebih dari hari biasanya. Kami, satu angkatan dengan jumlah 134 siswa naik ke atas panggung yang luas itu, berdiri di atas tamu undangan dan wali murid untuk menyanyikan  beberapa lagu spesial untuk  ayah  bunda kami. Setelah itu, momen puncak yang  saya  tunggu-tunggu. Hasil perjuangan saya selama lebih dari dua tahun ini.

 

Suara menggelegar dari MC di aula  yang  megah itu, “Inilah, peraih 3 benar nilai ijazah tertinggi  dari jurusan IPS”. Bulu kuduk saya merinding serta jantung  berdetak lebih kencang dari biasanya. Peraih nilai tertinggi ketiga telah disebutkan, lalu kedua, namun nama saya  belum terpanggil.  Saya  mulai memajamkan mata untuk menetralkan rasa gugup  sampai

 

MC bersuara lagi, “Selamat kepada Ananda Qori’atul Septiavin putri dari Bapak Arifin sebagai peraih nilai ijazah tertinggi dengan perolehan nilai...”.

Mata  saya  mulai kabur menahan rasa haru ini. Namun,  dengan  samar  saya  melihat ayah  dan  ibu saya  maju di atas panggung dengan rasa haru pula. Aula bak istana nan megah di pagi itu,  diriuhkan oleh  gemuruh  tepuk tangan. Mereka bisa bangga  dengan jabatan  ataupun penghasilan yang berlimpah. Tetapi, mereka tidak bisa merasakan kebanggan ketika  dapat maju di tengah kemegahan aula itu dengan menyandang orang tua  dari siswa berprestasi. Hari itu, dengan mata kepada  saya,  saya  melihat sang kepala sekolah itu  menyerahkan penghargaan kepada  saya  dan mengucapkan selamat kepada orang tua  saya.

Dengan jelas, saya melihat ayah dan ibu saya bangga namun dengan sedikit gemetar.  Saya bisa merasakan  bahwa tempat ini terlalu mewah untuk  keluarga  kami, untuk  seorang  ayah dengan pekerjaan buruh harian lepas. Tiba-tiba  ayah  harus berdiri di depan ratusan orang berkelas yang menyandang pangkat dan jabatan  atau  bisa  dibilang  orang yang  bukan sekedar orang. Di situlah  saya  membuktikan bahwa  Ayah  dan  Ibu saya  adalah yang terhebat di antara orang-orang hebat di sana.

Awalnya,  saya  memang benci dengan kepada kepala sekolah saya  karena  hanya menilai seseorang dari fisik dan materi. Namun, kini  saya  berterima kasih karena setidaknya  sakit hati itu terbalaskan dengan menyenangkan hati kedua orang tua  saya,  ayah  dan  ibu.

Merekalah pelita hidup saya. Janji saya  adalah  tidak  akan mengecewakan perjuangan  ayah dan ibu.

“Percayalah, Yah, Bu,  saya  akan  menjadi orang hebat, seperti  ayah  dan ibu yang telah menjadi orang tua  yang super  terhebat. Suatu hari nanti, tidak ada lagi pekerjaan keras dan di tempat panas seperti yang sekarang  ayah  dan ibu perjuangkan.  Bersabarlah, beberapa  tahun lagi, saya  bangunkan istana untuk kita. Kita,  orang yang dipandang biasa,  namun tidak ada suatu kemustahilan untuk kelak menjadi orang yang luar biasa."

 

Penulis: QORI’ATUL SEPTIAVIN

IG: @QALV

Generic placeholder image

DITULIS OLEH

Eureka

Eureka Writer

Content Writter, blogger, dan pembaca yang sabar. Menulis sesuatu tentang, hujan, bumi, dan langit.

New Entry