KENANGAN TENTANG AYAH - JUARA FAVORIT 6 LOMBA CERPEN EUREKA BOOKHOUSE

Oleh Eureka | 19 May, 2021 |
478
IMG-BLOG
19 05 2021

Aku berjalan di lorong rumah sakit. Beberapa perawat dan dokter menyapaku. Hingga aku tiba di sebuah ruangan bertuliskan “Ruangan Dr. Anatasya”. Itu ruanganku. Aku bekerja menjadi dokter di salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta. Sudah menjadi cita citaku sejak kecil untuk mencapai posisi ini.

Aku mengambil sesuatu dari dalam laciku. Sebuah buku lusuh yang mungkin lebih cocok disebut album. Kubuka satu persatu lembar album itu. Sampai, sebuah kenangan terlintas di benakku.

•••

“Huuu.. Ana jelek, Ana anaknya tukang becak,”

“TEMAN-TEMAN! KITA NGGAK USAH TEMENAN SAMA ANA, DIA KAN CUMA ANAKNYA TUKANG BECAK,” Teriak seorang anak laki-laki bertubuh gemuk.

Di samping itu, seorang gadis kecil menangis tersedu-sedu.

“Memangnya kenapa kalau Ana anaknya tukang becak?” Tanya Ana sambil menangis.

“Kamu itu tidak cocok berteman dengan kita. Kita ini anak pengusaha sedangkan kamu cuma anak tukang becak. Kamu tidak akan sukses!” Ucap seorang anak laki-laki berambut ikal.

“Ya sudah lihat saja, nanti akan kubuktikan kalau aku juga bisa sukses!” Seru Ana sambil mengusap air matanya.

Kringg

Bel sudah berbunyi, tandanya pelajaran telah selesai dan murid-murid SD Permata diperbolehkan pulang ke rumahnya.

“AYAAHHH!” Seru Ana berlari ke arah seorang pria yang sedang duduk di atas becaknya.

“Eh, anak ayah sudah pulang,” Sambut pria itu. Terlihat dari wajahnya yang penuh keringat, namun dengan segera pria itu mengusap keringat di wajahnya berganti dengan senyum ceria.

“Bagaimana sekolahnya Ana?” Tanya ayah Ana sambil mendorong becaknya.

“... “ Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ana. Gadis itu mengingat bagaimana perlakuan teman temannya disekolah. Setelah hening beberapa saat, Ana baru mau berbicara. Tetapi yang keluar bukan jawaban, melainkan sebuah pertanyaan.

“Memangnya Ana tidak boleh sukses ya, ayah?”

“Ayah kenapa jadi tukang becak sih? Karena ayah tukang becak, setiap hari Ana diejek sama teman-teman Ana,” Ucap Ana pelan.

“Ana, meskipun ayah cuma tukang becak, tapi pekerjaan ayah ini halal. Ayah juga tetap bisa mencukupi kebutuhan kita sehari hari,” Jawab ayah Ana dengan sabar.

“TAPI AKU MALU PUNYA AYAH SEPERTI AYAH!” Bentak Ana tanpa sadar. Ia turun dari becak ayahnya dan berlari menjauh. Bahkan teriakan ayahnya pun tak disahuti oleh Ana.

Pak Reno, ayah Ana hanya bisa menghela napas. Saat ini, hanya Ana yang dimilikinya, istrinya sudah meninggal sejak melahirkan Ana.

“Ya Allah, hamba mohon, lindungilah putri hamba ya Allah,” Batinnya berdoa.

Disisi lain..

Ana berlari menjauh dari becak ayahnya.

“Ya Allah, Ana minta maaf, Ana sudah bentak ayah tadi, maaf in Ana ya Allah,” Batin Ana.

Tak lama kemudian, Ana sampai di rumahnya. Meskipun Ana masih SD, dia sudah tahu arah jalan rumahnya. Ana segera masuk ke dalam rumah. Tanpa berganti baju, Ana langsung naik ke tempat tidurnya, ia menangis hingga akhirnya tertidur pulas.

Tanpa Ana sadari, sejak ia berlari, ayahnya sudah mengikuti menggunakan becaknya. Bahkan ayahnya pun melihat Ana yang menangis di tempat tidur.

Setelah melihat anaknya tertidur, pak Reno langsung pergi dari rumah menggunakan becaknya.

“Ayah akan cari uang yang banyak, nak. Supaya Ana nggak diejek lagi sama teman teman Ana dan Ana bisa jadi orang yang sukses,” Batin pak Reno.

Dengan penuh semangat, pak Reno berkeliling untuk mencari penumpang becaknya. Bahkan dia juga menjadi kuli bangunan, agar bisa mendapat penghasilan tambahan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Pak Reno berniat kembali kerumahnya. Hari ini, beliau mendapat uang yang banyak. Bahkan tadi ada orang yang menaiki becaknya untuk berkeliling dan memberinya upah yang cukup banyak

Pak Reno sangat senang, akhirnya ia bisa mendapat uang untuk putri kecilnya. Karena terlalu senang pak Reno tak sadar, ada sebuah mobil yang melaju sangat kencang dari arah belakangnya.

Brakkk

Kecelakaan tak bisa dihindari.

Sedangkan dirumah ya, Ana baru saja bangun tidur karena mendengar dering telpon yang tak kunjung berhenti. Ia pun memutuskan untuk mengangkat ya.

“Halo,”

“Halo, selamat malam. Apa benar ini keluarga dari pak Reno?”

“Benar om. Ana anaknya pak Reno. Om siapa?”

“Begini nak, ayahmu mendapat musibah diperjalanan, beliau kecelakaan. Apakah kamu bisa ke jalan Garuda?”

Sontak saja, Ana yang mendengarnya terkejut.

“Bisa om, Ana segera kesana,” Tanpa menunggu jawaban dari penelpon, Ana langsung mematikan sambungannya. Ia berlari keluar rumah menuju tempat yang tadi disebutkan.

“Ayah, ini pasti bohong kan? Ana cuma lagi mimpi kan? Ayah pasti baik baik aja kan? Ya Allah, Ana minta maaf ya Allah... Jangan bawa pergi ayah Ana ya Allah,”

Sesampainya ditempat tujuan, Ana melihat banyak orang berkerumun. Ia langsung menerobos kerumunan itu dan mendapati seorang pria tua dengan darah melumuri seluruh tubuhnya.

“AYAAHH!”

“A-Ana? Ana ke-kenapa disini?”

“Ayah, ayah, Ana minta maaf, yah. Ana janji Ana akan jadi anak yang baik buat ayah,”

“Ka-kamu sudah jadi anak yang paling baik buat ayah, Ana janji ya kalau sudah besar Ana harus jadi orang yang sukses. Bikin bangga ayah sama ibu disana,”

Melihat ayahnya dengan penuh darah namun masih berusaha berbicara padanya, membuatnya begitu menyesal telah membentak ayahnya tadi.

“I-iya ayah, A-Ana janji Ana akan jadi orang sukses. Tapi ayah harus bertahan ya, ayah jangan tinggalin Ana sendirian,” Ana menangis, menggenggam erat tangan ayahnya seolah tak mau ditinggalkan. Tentu saja kejadian ini banyak dilihat oleh orang-orang.

“Ana harus rajin ibadah ya, doain ayah dan ibu disana. Se-selamat tinggal Ana,”

Ana melihat mata ayahnya yang sudah mulai tertutup.

“A- AYAAHHH! JANGAN TINGGALIN ANA,”

Malam ini hujan turun, seolah langit ikut menangis mengantar kepergian Pak Reno. Pak Reno adalah orang baik dan sudah menjadi ayah terbaik buat Ana. Bohong jika Ana malu memiliki ayah seperti Pak Reno, dan sekarang ia hanya bisa menyesali perbuatannya.

“Ayah, Ana minta maaf, Ana tahu Ana salah, maafin Ana ya, yah. Ayah baik-baik disana, sekarang pasti ayah senang karena ayah bisa bertemu ibu lagi. Disini Ana akan rajin berdoa buat ayah dan ibu. Ana janji Ana akan jadi orang yang sukses. Selamat tinggal ayah,”

Saat itu juga ambulans datang. Pak Reno dibawa kerumah sakit. Namun, tetap saja. Pak Reno tidak bisa diselamatkan dan dinyatakan telah meninggal. Ana duduk dikursi rumah sakit sampai seorang pria berjas menghampirinya.

“Kamu Ana ya?” Tanya pria itu.

“iya om. Om siapa?” Ana menjawab dengan lesu. Ia masih memikirkan keadaannya sekarang. Uang yang diberikan ayahnya hanya cukup untuk 2 minggu. Harus bagaimana supaya dia tetap bertahan hidup?

“Om yang tadi menelepon kamu,” Pria itu menjawab sambil tersenyum.

“Iya om, ada apa ya?”Tanya Ana lagi.

“Sekarang Ana tinggal sama siapa?”

“Ana tidak tahu mau tinggal dengan siapa, om. Ana sudah tidak punya siapa siapa lagi, om” Ana kembali menangis, mengingat dirinya yang tidak memiliki sanak saudara sedangkan kedua orangtua nya sudah meninggal.

“Bagaimana kalau kamu tinggal bersama om? Om punya anak sebaya kamu, nanti kalian bisa main bersama,” Ajak pria itu. Sontak, Ana langsung tersenyum, menghapus air mata di pipinya.

“Ana mau, om!”

•••

Mengingat kenangan itu membuat air mataku turun. Sebuah kenangan yang sangat menyakitkan untuk diingat. Namun, karna kenangan itulah yang membuat aku menjadi seperti ini.

“ANAAAA, PAPA DATANGG! Lho putri papa kenapa nangis?” Aku melihat seorang pria masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Nggak apa apa kok, pa,” Ucapku sambil mengusap air mataku.

“Nih, papa bawain ayam goreng kesukaan Ana. Papa tahu Ana pasti sedih lagi. Sekarang kita makan aja ya, nanti kita kemakam ayah Ana,” Aku tersenyum mendengar ucapan pria di hadapanmu ini.

“Aku sayang papa,” Tanpa menyahuti ucapannya, aku memeluk pria dihadapanku.

“Papa juga sayang Ana, selalu,”

•••

Ayah, ayah apa kabar disana? Disini Ana baik yah. Tapi, setiap hari Ana rindu ayah. Ana yakin pasti disana ayah senang. Kan ada ibu dan Allah yang selalu menyayangi ayah. Setiap hari Ana berdoa untuk ayah kok.

Ayah, disini Ana sudah sukses. Sekarang Ana sudah bisa mewujudkan mimpi Ana jadi dokter. Itu semua juga berkat ayah dan ibu yang selalu mendoakan Ana. Sekarang Ana tinggal dengan papa. Orang tua yang Ana punya setelah kepergian ayah. Papa itu sangat baik dan sayang pada Ana.

Ayah, sekarang Ana bahagia. Ana minta maaf ya yah. Dulu, Ana masih belum bisa bahagiain ayah. Tapi, Ana selalu berdoa, semoga ayah selalu bahagia bersama ibu disana. Ana sayang ayah, selalu.

~Dari Anatasya, putri kecil ayah

Penulis: Diza Aisyah Khansa

 

Generic placeholder image

DITULIS OLEH

Eureka

Eureka Writer

Content Writter, blogger, dan pembaca yang sabar. Menulis sesuatu tentang, hujan, bumi, dan langit.

New Entry