MALAIKAT PENJAGAKU - JUARA FAVORIT 7 LOMBA CERPEN EUREKA BOOKHOUSE

Oleh Eureka | 19 May, 2021 |
721
IMG-BLOG
19 05 2021

Malam ini hujan deras melanda kota kelahiranku. Petir menyambar seakan Tuhan sedang murka dengan penduduk bumi. Hempasan angin dingin yang tiada henti perlahan menerpa kulit wajahku yang saat ini sedang termenung didepan jendela kamar. Begitu malang orang yang sedang berlalu lalang dijalan raya, mereka kedinginan karena air hujan yang terus-terusan turun dengan lebatnya. Hatiku seketika tak tenang. Aku sedikit khawatir dengan keadaan bapakku yang belum juga pulang hingga saat ini, harap-harap Bapak tidak kedinginan diluar sana.

            Akhir-akhir ini Bapak sering pulang tengah malam karena urusan pekerjaan yang tak kunjung terselesaikan. Bapak selalu memintaku untuk jangan mengkhawatirkannya ketika dirinya tak kunjung sampai rumah. Namun nyatanya aku tak bisa menahan rasa was-was yang seringkali menghantui ketenanganku. Rasa takut akan kehilangan seorang pahlawan dan cinta pertamaku selalu terlintas dalam benak dan angan. Ini semua dianggap wajar oleh bapakku, aku adalah seorang anak tunggal yang ditinggal meninggal oleh ibunya. Ragaku selalu rapuh dimata Bapak, dan jiwaku selalu beliau anggap sabar karena sering disakiti oleh garis takdir dan keadaaan.

“Naya..” Sebuah suara lembut mengalun perlahan diindera pendengaranku. Sudah kuduga, itu suara Bapak yang sedari tadi kutunggu kehadirannya.

Aku menatap sayu kearahnya, sosok tegar itu berdiri tegap diambang pintu. “Bapak tidak kehujanan, kan?” Tanyaku khawatir padanya.

“Tidak, lihat saja baju Bapak. Tidak basah sama sekali, kamu jangan khawatirkan keadaan bapak.” Aku tidak tahu Bapak sedang berbohong atau tidak. Sosok pahlawan satu ini selalu berusaha untuk tertawa diatas beban kehidupan yang ada.

“Bapak tidak sedang berbohong, kan?”

“Naya, sejak kapan bapak pandai berbohong denganmu?”

            Aku tidak mengerti lagi, mengapa laki-laki yang sangat kucintai ini selalu tegar dalam menerima kenyataan. Aku tidak setegar bapak, aku gadis yang sangat rapuh ketika harus menerima kepergian ibu untuk selama-lamanya. Namun Bapak tidak selemah itu, beliau tetap berusaha tersenyum untuk menguatkanku. Lima tahun sudah aku hidup hanya dengan Bapak, dan saat ini umurku genap diangka 17. Semakin tua usia, semakin banyak pula beban penderitaannya. Hingga detik ini, aku belum mampu untuk membahagiakan bapak. Sedangkan bapak selalu bisa membuatku tertawa dan tersenyum disetiap harinya.

“Selamat makan, Naya.” Ucap Bapak seraya tersenyum kearahku, senyuman itu benar-benar menenangkan hatiku yang sedang gundah.

“Selamat makan juga, Pak.”

“Kamu terlihat murung hari ini, ada apa?” Tanya Bapak kepadaku.

“Tidak, Pak.” Terpaksa aku harus berbohong kepadanya, aku tidak mau Bapak kepikiran akan suatu hal yang sudah lama kupendam ini.

“Bapak tahu kamu sedang berbohong, Naya.” Ujar Bapak seraya menyuapkan sesendok nasi bersama lauk tempe goreng tersebut.

Aku hanya mengaduk-aduk nasi yang sudah ada dihadapanku, mengapa dalam sekejap rasa tempe goreng ini hambar dilidahku. “Tagihan uang gedung Naya belum dibayar, Pak.” Aku masih melihat mata lesu itu berbinar terang bak rembulan, “Naya punya rencana, besok Naya akan jualan gorengan. Naya kan dulu sering bantu Almarhumah Ibu jualan, itung-itung buat bantu Bapak nyari uang.” Lanjutku dengan nada melemah.

“Tidak usah, Nak.”

“Bapak selalu melarang Naya untuk jualan, padahal Naya kasihan Bapak harus kerja sekeras ini.” Aku menyanggah jawabaan singkat Bapak.

            Aku tidak tahu lagi, Bapak selalu pura-pura baik-baik saja didepanku. Tubuhnya yang semakin kurus, bahunya yang legam termakan sinar matahari, dan kulitnya yang semakin keriput membuatku tak tega melihatnya terus-menerus bekerja dihari tuanya. Aku benar-benar tidak berguna untuknya, betapa payah dan bodohnya diriku ini. Setiap harinya, aku harus melihat raga ringkih itu berjalan kesana kemari menjemput rezeki. Tak jarang aku melihat Bapak mengusap kasar keringat yang bercucuran dari dahinya. Bodoh, aku bodoh dan sangat bodoh. Aku hanyalah beban untuknya, mengapa Tuhan masih menghidupkanku hingga saat ini?

            Malam semakin larut, Bapak sudah masuk ke kamarnya bersiap untuk terlelap. Aku masih sibuk membereskan meja yang tadinya kita pakai untuk makan malam. Beberapa piring dan gelas kotor segera kucuci bersih, selanjutnya ku rapikan taplak meja lusuh tersebut. Tak lama kemudian, aku segera bersiap menuju kamarku untuk bersiap tidur. Tak sengaja ku dapati Bapak yang sudah tertidur pulas diranjang reotnya, diatasnya terdapat topeng badut yang menggantung sempurna disana. Topeng badut itu sudah kotor dan menjadi sarang debu, hanya barang kecil itu yang dapat membantu keluarga kecil ini bertahan hidup.

“Tuhan, izinkan aku untuk membahagiakannya.” Batinku pelan sambil melihat sosok Bapak yang semakin hari semakin menua itu.

            Keesokan harinya saat sore hari tiba, Bapak yang baru saja pulang sehabis mencari uang tiba-tiba menunjukkan senyuman lebar itu kepadaku. Aku tidak dapat menebak isi hati Bapak sekarang, beliau terlihat sangat bahagia hari ini. Aku yang menyambutnya diambang pintu segera membalas senyuman teduh tersebut. Kuraih tangannya untuk menanyakan suatu hal padanya, aku berharap Bapak mau menjawab pertanyaan ini dengan sejujur-jujurnya.

“Kelihatannya, ada kabar gembira nih dari Bapak.” Aku bersalaman dengan tangan keriput milik Bapak. Senyuman Bapak belum juga sirna dari bibirnya.

“Ini untuk kamu.” Bapak tersenyum lagi kearahku. Heran, mengapa sosok satu ini bak malaikat penjaga dimataku?

“Bapak dapat uang sebanyak ini darimana?” Aku kembali dibuat heran dengan puluhan lembar uang seratus ribuan yang baru saja Bapak berikan kepadaku.

Bapak menggenggam tanganku erat. “Pakai saja uangnya untuk biaya sekolahmu, Nak.” Ucapnya penuh dengan kesabaran.

“Bapak mencuri?”

“Bapak tidak mungkin menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang sebanyak ini.”

Aku yang semakin curiga tanpa henti bertanya pada Bapak yang masih mengukir senyuman tersebut. “Bapak pinjam uangnya siapa?”

“Bapak pinjam uangnya tetangga sebelah. Ada tetaangga yang baik hati meminjamkan uang sebanyak ini kepada Bapak.” Bapak menjelaskan hal itu kepadaku, “besok segera bayar uang tagihan sekolahnya ya, jangan ditunda-tunda biar kamu nggak dikeluarin dari sekolah.” Ujar Bapak kembali seraya memelukku erat.

Aku terisak dipelukan hangatnya, tak tega melihat Bapak berjuaang sekeras ini demi keberlangsungan hidupku. “Naya janji akan belajar yang rajin, biar Bapak bisa bangga sama Naya.” Ucapku lembut padanya.

Malamnya sebelum aku tertidur pulas, aku menangis tersedu-sedu kala membayangkan sosok Bapak yang susah payah mencari pundi-pundi uang untukku. Biaya hidup semakin mahal, mencari uang semakin tak gampang, dan semesta menuntutnya untuk selalu tegar menghadapi drama kehidupan. Disaat aku ingin berputus asa, Bapak selalu memberiku sebuah semangat lewat senyumannya. Bapak adalah sosok yang sangat berharga untukku, bagaimanapun kondisinya, ia akan tetap sempurna dimataku. Apapun pekerjaannya, beliau tetap menjadi pria terkaya yang ada dikehidupan anaknya. Cintanya yang selalu ada untukku, senyumannya yang selalu menjadi penyemangatku dan sorot matanya yang selalu mampu mebuatku terharu. Begitu sempurnanya sosok Bapak dimataku, ingin aku berterimakasih kepada Tuhan yang sudah mengirimkan sosok setangguh dia dihidupku.

“Tuhan, jagalah dia yang begitu tulus mencintaiku.”

Penulis: INDIRA SEPTI

Generic placeholder image

DITULIS OLEH

Eureka

Eureka Writer

Content Writter, blogger, dan pembaca yang sabar. Menulis sesuatu tentang, hujan, bumi, dan langit.

New Entry