MENANTI SENJA - JUARA FAVORIT 2 LOMBA CERPEN EUREKA BOOKHOUSE

Oleh Eureka | 26 Sep, 2021 |
387
IMG-BLOG
26 09 2021

Seorang gadis diam dalam lamunan. Deretan buku yang berjejer rapi dianggurkannya begitu saja. Biasanya malam-malam begini merupakan waktu favoritnya untuk membuka jendela dunia. Namun, lain kali ini. Sepertinya pikirannya telah terpenuhi banyak hal sehingga tak berselera membuka satu halaman buku pun. Di ruang keluarga, adiknya yang masih kelas 4 SD tengah asik menonton tayangan kartun kesukaannya. Sesekali adiknya merengek manja minta ditemani kakaknya.

Dua anak ditinggal setiap hari dalam naungan sepi. Ibunya bekerja jauh, ayahnya juga. Bedanya, sang ibu pergi entah kapan kembali, sang ayah pergi pagi pulang petang. Meski terbatas dalam waktu, tak sedikit pun minim cinta dan kasih. Mungkin ibu bisa menghubungi lewat telepon setiap minggu, tapi kasih ayah nyata adanya.

***

Menjalani dua peran sekaligus awalnya tak mudah bagi seorang bapak yang sifatnya kaku. Tak bisa lagi bersikap dingin dan cuek layaknya dulu. Sekarang ia harus aktif peduli terhadap anak-anaknya. Saat ada istrinya, membuka mata sudah dihidangi kopi. Kini pagi buta sudah sibuk berurusan dengan wajan dan panci.

“Nak, bangun. Sholat dulu.” Sang bapak membangunkan putri pertamanya, Aisya.

“Iya, pak.” jawabnya sambil mengucek mata. Ia pun pelan membisiki adiknya yang masih terlelap untuk bangun.

Mereka bertiga mendirikan sholat bersama. Doa yang dipanjatkan bersautan dengan gerimis yang mulai menderas. Saat yang sangat tepat berdialog dengan Sang Pencipta. Usai berdoa, ayat suci dilantunkan oleh Aisya yang rutin mengulang hafalan. Tak tega melihat Inayah yang masih terkantuk-kantuk, Aisya menyuruhnya untuk sekadar tiduran di sofa. Sementara bapak, melanjutkan kembali aktivitasnya di dapur . Pukul 6 pagi, bapak sudah siap untuk bekerja.

Kebetulan saat itu sekolah online sehingga Aisya dan Inayah tetap di rumah. Namun, seringnya mereka berdua bertandang ke rumah simbah yang tak jauh jaraknya dari rumah. Maka dari itu, bapak tidak terlalu merisaukan perihal kedua anaknya yang ditinggal sejak mentari mulai menyapa. Meski dalam lubuk hati tak bisa menyangkal bahwa ia ingin terus menghabiskan waktu bersama sepanjang hari.

“Bapak pamit dulu. Jaga diri baik-baik.” Itulah sebuah pesan yang tak absen untuk terucap. Sambil mengelus rambut kedua putrinya, tangan satunya merogoh kantong pinggir. Mencari uang recehan sebagai uang jajan. Setelah menemukan dua lembar uang kertas dua ribuan, ia menyodorkannya. Kedua putrinya dengan senang hati menerima pemberian ayahnya.

“Hati-hati di jalan, bapak. Ina sayang bapak. Kakak Isya juga, kan?” tanyanya sambil menoleh ke Aisya.

“Kak Isya sayaaaaaang banget sama Ina, bapak, dan ibu.” jawabnya sambil mencium tangan bapak. Ina pun mengikutinya. Bapak tersenyum haru.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, bapak.” Ina dan Isya melambaikan tangannya.

Motor bapak meliuk-liuk memilah jalan yang tak ada kubangan air. Gang yang sempit juga memperlambat perjalanan ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Tiba di jalan raya yang mulus, bapak bisa mempercepat kendaraannya.

Di balik helm tua, matanya jauh menerawang ke depan.

***

Kakek Harjo terbatuk-batuk di singgasana bambu depan rumahnya. Kulitnya yang keriput pertanda sudah menua. Matanya yang sayup sesekali melirik jalanan di sebelah kanan. Menunggu kedatangan kedua cucunya yang mampu menghidupkan suasana.

Baju-baju yang baru saja bermandikan air kini sedang diperas, dikibas, dijemur di halaman rumah. Nenek Harjo yang melakukannya. Meski sudah tua, energinya seakan masih segar. Badannya yang kurus membuat langkahnya semakin ringan. Selesai menjemur, ia duduk di samping suaminya. Turut membersamai menikmati sejuknya udara pagi.

Dua gadis berjalan beriringan di pinggir jalan. Semakin dekat semakin terlihat rumah simbah. Aisya terlihat membawa tas yang digantungkan di lengan kirinya. Isinya tak lain adalah buku catatan yang digunakan untuk sekolah online. Kebetulan dalam perihal sinyal, rumah simbah juaranya. Begitu melihat kedua cucunya datang, nenek segera masuk ke dalam rumah. Ia kembali dengan membawa sepiring pisang goreng yang masih hangat. Aisya dan Inayah pun mencium tangan simbahnya.

“Tadi bapak masak apa, nak?” Tanya nenek sembari mendudukan Inayah di pahanya.

“Bapak masakin nasi goreng yang enaaaaak bangett lho, nek.” Jawab Inayah dengan berbinar-binar. Wajahnya yang polos seakan tak merasakan apapun penderitaan keluarganya. Segala hal sederhana ia terima dengan perasaan yang luar biasa.

“Waaah, besok nenek minta buatin, ya! Nih makan dulu pisang gorengnya.” Nenek mengambilkan pisang goreng kemudian menyuapkannya pada Inayah. Aisya ikut mencomot satu, kemudian masuk ke dalam rumah.

Menjelang pukul 9 pagi, kakek pergi menjajakan dagangannya. Ia berjualan peralatan rumah tangga seperti sapu, pel, panci, dan seabrek lainnya. Sedangkan nenek menggeluti pekerjaan menganyam kain dari menjelang siang hingga sore. Nenek melakukannya di samping rumah beralaskan rerumputan berpayungkan pepohonan. Selagi masih bisa, mereka tak bisa dilarang untuk bekerja. Meskipun berulang kali dirayu agar duduk manis menikmati masa tuanya di rumah, katanya sangat jengah.

Mau di rumah sendiri, sangat sepi. Mau di rumah simbah pun tetap sama rasa sepinya. Itulah yang dirasakan Aisya dan Inayah. Selesai belajar, dua gadis itu pun membantu neneknya menganyam kain. Padahal, sebanyak apapun aktivitas yang dilakukan, menunggu bapak pulang bersama senja adalah hal terfavorit.

***

Semilir angin di siang hari menghipnotis mata untuk terlelap. Jikalau sultan bisa saja langsung saja rebahan. Tapi bagaimana dengan seorang buruh yang gajinya pas-pasan? Pastilah tertidur semasa bekerja hanya akan mengundang bumerang.

Seorang bapak dari kedua putri itu membasuh mukanya di kran yang alirannya saja tak lancar. Ia berjalan menuju kursi kayu yang sudah sedikit reyot kemudian mendudukinya. Sambil memandang awan yang biru, pikirannya melayang ke rumah. Memikirkan apakah kedua putrinya sudah makan? Apakah sudah mengerjakan tugas sekolah? Apakah manut sama kakek neneknya? Ingin hati setiap hari membanjiri dengan kasih sayang 24 jam, tapi apa daya tuntutan perekonomian membuatnya tertahan dalam pekerjaan.

Jam menunjukkan pukul 1 siang. Saatnya bapak memulai kembali pekerjaannya. Tetes demi tetes keringat merembes tak terasa dalam bajunya. Semua dilakukan demi upah tak seberapa, tapi selalu ia ingin gunakan untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Rampung bekerja, bapak segera bergegas pulang. Perjalanan untuk sampai ke rumah memakan waktu sekitar 1 jam.

Tepat saat bapak memikirkan buah tangan apa untuk Aisya dan Inayah, dari kejauhan terlihat keramaian dari alun-alun. Macet yang tidak bisa dihindari pun memaksanya untuk berhenti. Pantas saja, hari pertama bazar membuat pecinta kuliner, pemburu fashion, penyuka buku, penyanyi jalanan, menyerbu tempat ini. Bapak yang biasanya tidak suka keramaian seperti ini sulit sekali ketika dulu diajak istrinya berkeliling. Namun, kini berbeda. Demi kedua putrinya, ia pun menyempatkan mampir. Berjalan sendirian, berpusing ria, berdesakan dengan pengunjung lainnya untuk membelikan oleh-oleh meski mungkin nanti yang didapat hanyalah jajanan sederhana.

Di stand paling pojok utara, ia melihat bazar buku murah. Ia teringat kedua putrinya yang sangat suka membaca buku, terutama Aisya. Hampir setengah jam digunakannya untuk memilah milih. Setelah didapatinya buku yang pas, ia membayarnya. Melintasi toko seberang, hatinya terpikat pada salah satu sandal bermotif warna hitam. Rasa hati ingin membeli, tapi budget tak mencukupi jika harus ditambah dengan jajanan seblak kesukaan anaknya. Ia pun memendam keinginannya lalu membeli seblak di pinggir jalan sekalian pulang. Hari sudah mulai menggelap. Lelah semakin menghinggap. Jalanan memburam.

***

Siang mulai luntur. Aisya dan Inayah segera pulang ke rumah. Di bangku teras, mereka menyaksikan senja dan bersiap menyambut bapaknya pulang. Ada banyak hal yang ingin mereka ceritakan hari ini. Azan maghrib berkumandang. Bapak belum juga pulang. Was-was mulai menghadang. Aisya sebagai seorang kakak pun tak tega melihat adiknya yang terus-terusan digigit nyamuk. Aisya menyuruh Ina bergantian mandi. Namun, hingga mereka berdua selesai mandi dan sholat pun, tak ada tanda-tanda kepulangan bapak. Nomor pun tak aktif.

Heningnya malam yang pekat mulai mencekam. Inayah mulai merengek, katanya ngantuk. Ina pun tertidur. Aisya masih terjaga. Dinyalakannya televisi meskipun acaranya pun tak dinikmati. Sesekali ia pun melongok jendela depan. Jika nanti pukul 9 malam bapak tak kunjung datang, ia akan mengabari simbahnya. Namun, tak dapat disangkal bahwa kantuk menghampiri sebelum jam 9. Aisya gagal menahan matanya untuk tetap terbuka. Seharian ini mereka berdua lebih banyak membantu neneknya melakukan pekerjaan. Lelah tak tertahankan.

Silih pun berganti. Saat kedua anak itu terlelap, deru motor dari kejauhan terdengar semakin mendekat. Ia adalah bapak dari Aisya dan Inayah. Segera diparkirkan motornya di samping rumah. Ia sudah tak sabar bertemu anaknya, memberikan oleh-oleh, dan utamanya meminta maaf karena pulang larut malam. Tangannya meraih gagang pintu. Ternyata terkunci. Dapat ditebak bahwa putrinya sudah tidur karena mereka tak biasa tidur larut malam. Sebenarnya ia bisa saja mengetuk berulang kali. Namun, ia lebih memilih untuk di luar saja.

Pagi pun menjelang. Azan subuh berkumandang. Bapak terbangun dari tidurnya. Ia tahu bahwa kedua putrinya pasti sebentar lagi bangun. Diketuknya pintu depan. Aisya yang mendengar langsung membukanya. Begitu Aisya tahu bahwa bapaknya pulang, Ina pun dipanggil. Mereka berpelukan.

“Bapak kok baru pulang? Aisya sama Ina khawatir, tau.” Kata Aisya.

“Maafin bapak, nak. Nanti bapak jelasin. Sholat subuh dulu, yuk.” Bapak pun lebih dulu ke belakang untuk mengambil air wudhu.

Setelah sholat berjamaah, Aisya dan Inayah mencium tangan bapaknya. Masih memakai mukena, mereka berdua mengoceh tentang hari kemarin dari pagi hingga malam. Bapak hanya mendengarkan sembari tersenyum. Sungguh pendengar yang baik. Saat anaknya berhenti berbicara, bapak pun menjelaskan perihal pulang malam. Katanya, saat pulang dari tempat bazar, ternyata ban motornya bocor. Penerangan jalan yang temaram tak cukup jelas untuk mendeteksi adanya paku. Ia berjalan cukup jauh mencari tambal ban, belum lagi antrian panjang. Mau menghubungi pun teleponnya mati, nomor anaknya tak hafal.

“Bapak hanya berdoa semoga kalian aman saja di rumah. Setelah bapak pulang, ternyata rumah terkunci. Bapak senang kalian sangat berhari-hati.“ Kata bapak.

“Tapi pak, maafin Aisya. Bapak jadi tidur di luar. Kenapa ngga digedor aja pintunya. Isya pasti denger kok.” Raut mukanya sedih.

“Ngga papa, nak. Bapak ngga ingin waktu tidur kalian terganggu. Tidur di luar juga enak, kok. Udaranya segar.” Jawab bapak samil mengibas-ibaskan tangannya. Padahal, dirinya saat itu mulai merasakan masuk angin.

“Itu apa, pak?” tanya Ina sambil menunjuk keresek warna hitam di meja. Bapak pun mengambilnya. Aisya dan Inaya berebut untuk membukanya.

Surprise…” Begitu kata bapak setelah isinya terbuka. Mata kedua anaknya berbinar.

“Waah.. Ina suka banget pak, bukunya keren. Iya kan, kak?” tanyanya sambil menoleh Isya.

“Iya nih, Isya juga suka banget jadi nambah bahan bacaan. Makasih, bapak.”

“Makasih bapak, sayang bapak.” Timpal Ina.

“Jadi kemarin bapak cuma beli ini jadi pulang terlambat? Isya jadi merasa bersalah udah suudzon ke bapak karena pulang malam.”

“Sssstt, ngga ada yang salah. Bapak kan pengin nyenengin putri bapak. Emang ngga boleh? Udah sekarang bapak mau mandi dulu, ya.” Bapak pun beranjak dari lantai. Setelah itu, ia diam-diam menyembunyikan seblak yang kemarin dibeli untuk kedua putrinya. Dimakannya sendiri di dapur karena tak ingin memberikan seblak yang sudah mendingin, cita rasa pun sudah tak lagi sama dengan kemarin.

Betapa sayangnya seorang ayah terhadap anaknya, tak selalu terucap dalam rangkaian kata yang indah. Hanya saja, siapapun anak yang disayangi oleh seorang ayah, pasti dengan sendirinya akan merasakan secara nyata betapa melimpahnya kasih sayang yang ia dapatkan.

Penulis: APRILIA FERDIANA

Generic placeholder image

DITULIS OLEH

Eureka

Eureka Writer

Content Writter, blogger, dan pembaca yang sabar. Menulis sesuatu tentang, hujan, bumi, dan langit.

New Entry