SEKOTAK SNACK DARI AYAH - JUARA 2 LOMBA CERPEN

Oleh Eureka | 26 Sep, 2021 |
746
IMG-BLOG
26 09 2021

Sekotak Snack Dingin

Ana Anggi Anggraini

 Sinar bulan purnama menemaniku yang sedang beres-beres tanda toko brownies ini akan tutup. Hari ini toko ramai sekali, banyak pelanggan yang datang membuat kami para karyawan kelelahan dan harus pulang larut malam. Jujur penat sekali rasanya, apalagi aku yang seharian berkutat di meja kasir menuntut kemampuan berkonsentrasi yang tinggi.

Saat kami sedang berbincang seraya menghitung penjualan hari ini, terlihat seseorang datang dan berdiri di depan toko. Kepalanya melihat ke dalam dan seperti mencari sesuatu. Aku melirik teman kerjaku mengisyaratkan untuk memandang keluar. Ia juga kaget, seorang bapak-bapak paruh baya dengan jaket hitam sedang tangannya terlipat memeluk dirinya sendiri. Kami sempat berpikir untuk menelpon bos, tapi mengurungkan lagi niat kami. Jika dilihat-lihat bapak ini bukan orang jahat.

Kami berdua lantas menghampiri bapak tersebut. Rupanya bapak tersebut enggan masuk karena merasa tidak enak karena beliau hendak beli namun sudah larut malam. Disisi lain beliau tidak ingin mengurungkan niatnya, karena ingin membelikan kue untuk putrinya yang sedang duduk di bangku SMA. Lalu kami bertanya darimana asalnya, Ia mengaku dari luar kota ini. Jawaban tersebut cukup menjawab rasa penasaran kami melihat kondisinya yang kebasahan padahal diluar tidak sedang hujan.

Aku dan rekan kerjaku saling pandang dan berusaha berkomunikasi melalui mata. Bapak ini dari luar kota dan memaksakan ingin membeli kue disini. Katanya, kue disini sedang populer di kalangan anak muda. Ia tidak ingin membeli melalui aplikasi pesan-antar makanan karena tidak memiliki cukup uang jadi ia terpaksa menghampiri toko. Bapak tersebut pernah mendengar jika putrinya ulang tahun, ia ingin dibelikan kue di tempat ini. Ia baru ingat jika hari ulang tahun putrinya adalah besok. Jika aku adalah putrinya, aku akan memeluk ayahku dan mengomelinya untuk tidak memaksakan pergi sekaligus beterima kasih akan perhatiannya. Sayangnya, ayahku jarang sekali memberikan sesuatu yang spesial seperti ini.

Temanku menyinggung pelan lenganku hingga perhatianku teralih kembali. Akhirnya kami memilih untuk melayaninya. Bapak itu terlihat memilih kue yang sebenarnya hanya tinggal tiga potong namun berbeda variasi rasa.

“Pak, apa tidak apa-apa? ‘kan itu kuenya sudah dingin.” Akhirnya aku mengeluarkan rasa penasaranku.

“engga apa-apa, teh. Saya pesan semuanya boleh kan?” Waw, tentu saja kami setuju dan senang mengingat akan dapat bonus nanti.

Bapak itu pamit setelah mendapatkan pembeliannya. Ia memeluk kue itu dengan erat dan senyuman lebar menghiasi parasnya. Perlahan suara hujan menimpa atap toko terdengar dan bapak itu masih memilih pergi seperti tidak sabar untuk pulang. Jujur aku tersentuh melihatnya.

Bapak itu adalah pengunjung terakhir hari ini dan kami benar-benar menutup toko. Aku pulang dengan beribu rasa iri. Bapak tersebut pergi larut malam seorang diri demi membeli kue disini disaat mungkin putrinya hanya tinggal klik di aplikasi pesan-antar makanan. Anaknya harus bersyukur.

Tiba di rumah perutku masih keroncongan. Aku kira setelah mengendarai motor perutku akan kenyang diisi angin. Rumahku gelap dan hanya lampu luar yang menyala. Pasti orang-orang rumah sudah tidur. Aku memarkirkan motor, masuk ke dalam rumah, dan pergi ke dapur.

Aku membuka tudung saji dan kecewa tidak menemukan apa pun disana. Perutku sudah tawuran di dalam sana. Mirisnya aku lupa membeli mie instan dan cemilan di jalan. Lampu dapur tiba-tiba menyala membuatku sedikit terlonjak kaget. Aku melihat ayahku membawa sesuatu di tangannya. Seperti biasa, gayanya kikuk dan canggung khas ayahku. Ia menyimpan benda tadi di atas meja.

“Kata ibumu, kamu suka lupa makan kalo pulang. Maafin ibumu mungkin dia lupa masak.” lantas berlalu begitu selesai bicara. Aku kira ayahku sudah di rumah, rupanya ia baru pulang. Seragam satpam kantor masih melekat di tubuhnya yang sudah berumur namun tetap gagah di mataku.

Aku tahu, kotak snack ini mungkin sisa kantor yang kelebihan dan akhirnya diberikan pada pegawai lain, salah satunya ayahku. Harusnya snack ini sudah berada dalam perutnya.

Aku membuka kotak snack, dan tersenyum begitu melihatnya. Bahkan, snack ini masih tersusun rapi tanda disimpan dengan baik. Aku tersenyum dan sesuatu mengingatkanku pada kejadian tadi. Dadaku menghangat dengan sendirinya. Kendati snack ini sudah dingin, namun ia mampu menghangatkan hatiku. Mungkin putri bapak tadi turut merasakan hal yang sama.

 

Biodata diri

Nama              : Ana Anggi Anggraini

Status              : Mahasiswa UPI Kampus Tasikmalaya

Hobi                : Membaca

Generic placeholder image

DITULIS OLEH

Eureka

Eureka Writer

Content Writter, blogger, dan pembaca yang sabar. Menulis sesuatu tentang, hujan, bumi, dan langit.

New Entry